Wahyupembebasan’s Blog

6 Juni 2009

LAMUNAN DALAM BUS KOTA

Filed under: Uncategorized — wahyupembebasan @ 9:18 am

Tepat pukul 4 sore, pertemuanku dengan salah satu temen disalah-satu pusat perbelanjaan selesai, kedatanganku memang bukan untuk belanja, niatan lebih terdorong keinginan untuk meminta maaf kepada temen, karena tempo hari ketika mereka mengajak untuk mendukung pemogokan yang dia lakukannya bersama temen-temennya untuk aksi mogok untuk menolak intimidasi perusahaan tidak bisa ku penuhi, intimidasi muncul karena temenku dan beberapa temenya berinisiatif untuk mendirikan Serikat Buruh (SB) baru di mall yang sekarang saya kunjungi, pembentukan SB itu sendiri ini dengan alasan serikat sudah ada lebih mendukung kepentingan pengusaha dalam kerja-kerjanya, semisal dalam kasus PHK anggota tidak mendapatkan hak sebagaimana mestinya, banyak hak-hak yang tidak diberikan oleh pengsuaha tapi SB yang sudah ada tidak berbuat suatu apapun, malah cenderung mengintimidasi anggotanya. sementara perusahaan berupaya untuk menghalang-halangi munculnya SB baru karena akan membongkar banyak hal yang selama ini ditutupi perusahaan.

Dari pertemuan yang sebenarnya tidak mereka minta, tapi lebih karena inisiatifku sendiri, dengan waktu yang relative singkat, obrolan mengalir begitu saja, merekam banyak kejadian-kejadian yang tidak penting menurut kebanyakan orang tapi tidak menurutKu. Salahsatunya yakni, pihak perusahaan pasca pemogokan menjadi tidak berlagak arogan lagi. Mereka juga mengabarkan, sebelum aksi terjadi, ancaman pemecatan atau mutasi menjadi bumbu harian yang mengancam lider-lider SB, dan sekarang ini orang-orang perusahaan sekilas terlihat menjadi lebih hati-hati. Walapun beberapa pengurus juga sadar pengusaha masih bergerilya mencari anggota yang masih labil untuk ditakut-takuti, untuk itu ku titip pesen pada mereka untuk senantiasa waspada dan terus bergerilya.

Kemarahan pihak perusahaan menurut mereka pada dasarnya bisa dimaklumi, karena selayaknya orang-orang kaya lainya di negeri ini, tidak beda dengan pengusaha dimana temenku bekerja, mereka bisa kaya lebih karena disebabkan oleh banyaknya orang-orang disekitanya yang bisa dibodohi dan dicuri haknya, sehingga ketika ada sebagian dari orang-orang disekitarnya mulai ada kesadaran akan hak dan kebodohanya selama ini, situasi ini akan menjadi ancaman bagi sumber-sumber kekayaan mereka.

Karea alasan ada undangan dari temen, pertemuanku berhenti tepat jam 4 sore, sebelum ku pulang ku sempatkan untuk menemui beberapa temen yang lain untuk sekedar mengakrabkan diri, dan pertemuanku yang terakhir adalah yang paling penting, karena selain ngobrol soal aksi mogok kemarin, dia menunjukanku arah keluar dari mall, karena sebelumnya sempat kebingungan dengan arah jalan raya, maklum di area parkiran terlampau banyak mobil yang menutupi arah ke gang keluar.

Setelah keluar dari mall sambil menenteng helm, karena waktu berangkat ngikut temen pake motor, dan gak bisa dititipkan, terpaksa harus naek bis kota sambil menenteng helm sebagai hukumanya, jadi teringat waktu dulu saat pinjem motor temen mogok di jalan dan tidak bisa dibawa pulang.

Setelah nunggu beberapa lama akhirnya bus yang ku tunggu pun datang, sangat kebetulan ketika ku masuk tinggal menyisakan satu kursi duduk, sambil duduk tiba-tiba rasa sukur menjalar hatiku begitu saja. Belum sempat duduk dengan tepat, ada sesuatu yang tidak biasa ku lihat, ada seorang perempuan setengah baya dan berperawakan pendek membagi-bagikan kertas amplop minta sumbangan/ngamen, tapi bukan itu menurut penglihatanku yang menjadi tidak biasa, yang terlihat aneh adalah cara berpakaianya tidak biasa, walaupun bukan pakaian mahal tapi dengan jelas lekuk bekas setrikaan tergambar dipinggir pakaiaanya begitu halus, masih ditambah pula dengan sematan kerudung putih dikepalanya, dari yang satu ini saja sudah menyingkirkan memori dan ingatanku yang melekat pada pengamen pada umumnya, ciri kumal, kotor dan dekil sangat akrab dengan dunia mereka.

Sampai disini keherananku belumlah selesai, sambil mendengar alunan solawat yang menurutku cukup kacau, keherananku masih berlanjut manakala ku tengok ke kakinya terlihat disana kaos kaki hijau membungkus kedua belah kakinya. Angankupun melayang jauh meningggalkan pengamen dengan suara jeleknya, yang teringat adalah partai dengan kebiasaan berpakaian para kader-kader perempuanya, pertanyaan yang sempat muncul adalah apakah partai yang sudah yang sudah mulai menggarap kader didunia pengamen, sambil kembali melihat sosok pengamen yang selesai menarik amplop dan siap-siap turun dari bus disalah satu pasar pertanyaan yang sempat muncul mungkinkah pengamen hanya berupaya untuk menarik simpati para penumpang bus, sampai disini pikiranku sempat berhenti memikirkan sosok pengamen ini.

Akan tetapi berganti merawang menggali makna atas penglihatanku barusan. Pengamen adalah bagian dari pengemis, pekerjaan yang dilihat sangat hina disebaian besar masyarakat kita apalagi pemerintah, tapi setelah melihat ibu tadi ada semacam memori baru yang terbangun di otaku, yakni penglihatan yang memberitahuku bahwa untuk bertahan hidup harus kreatif,  apapun pekerjaanya, walaupun ngemis.

Sampai disini otaku masih berpacu lagi melihat pengemis lebih dalam, hakikat pengemis, yah mungkin itu kata yang cocok untuk mewakili pikiranku waktu itu, mengemis merupakan kerja dengan meminta belas kasihan dalam rupa apapun pada orang yang kita mintai demi bertahan hidup, kalau logika ini diteruskan ku akan mendorong sebagian besar temen-temenku dan mungkin juga diriku sendiri dalam kategori PENGEMIS dengan alat, ilmu, modal, waktu dan ruang yang berbeda. Sampai disini ingatanku membenarkan strategi pengamen untuk keluar dari ke-umuman yang biasa ku lihat, walaupun disisi lain kuupayakan untuk mendorong satu keyakinan bahwa hidup yang terbaik adalah dengan karya bukan meminta-minta.

Cukup lama waktu berselang, sampailah bus ke pasar berikutnya, diantara beberapa penumpang yang naik ada satu orang yang sudah sangat akrab dengan penglihatanku ikut naik besama dengen beberapa penumpang lainya, yah, orang yang sejak tahun 2000 pertama saya menginjakan kaki di kota ini, saya serikngkali bertemu, dulu dia selalu berkhotbah dan setelahnya jalan menghampiri penumpang dengan tas lusuh menggelantung, peci lusuh sekaligus perawakan yang tidak mewakili ke-suci-an masjid, selain itu setelah berkhotbah tangan kanan menyodorkan kotak amal dan tangan kiri memegang gulungan kertas semacam proposal pembangunan masjid sebagaimana pengantar dia sebelum berkhotbah mengajak penumpang bus ber amal dalam pembangunan masjid bla, bla dan bla.

Saat ini, ketika ku lihat dia lagi, hilang beberapa aksesoris yang biasa terlihat, tiada kota amal, tas, sekaligus gulungan kertas itu, setelah beberapa saat pertanyaanku mendapat jawaban, dia mengeluarkan harmonica, dalam hatiku wah ganti strategi dia,  mungkin saja para penumpang bus sudah berfikir sama denganku, sudah tidak percaya dengan dia sebagai pencari amal bantuan untuk pembangunan masjid, karena kesing dan singing tidak singkron. Ketidak percayaan yang mungkin dirasakan banyak penumpang bus ini berdampak pada pendapatan amal untuk masjid menjadi sepi, kondisi inilah yang mungkin memaksanya untuk berganti profesi. Walaupun strategi yang digunakan tidak jauh beda, tetap berkhotbah dengan sedikit solawat dengan sesekali tiupan harmonica. Karena menurutku tidak cukup berkesan, ingatankupun pergi seiring turunnya sang peng khotbah ini dari bus.

Baru turun si pengkhotbah, masuk lagi pengamen dengan ciri umum yang bisa ada, ku pun tidak cukup memperhatikanya, yang ku ingat adalah dia mengawali dengan lagu yang lagi HIT, yakni lagunya band KUBURAN, judulnya lupa lirik. Tapi memasuki lagu yang kedua ada yang cukup menarik, dia menyanyikan lagu yang didalamnya mengatakan “daripada mencuri ayam tetangga….lebih baik ngamen, yang penting halal” suara ini seolah menjadi penyambung antara ingatanku pertama soal pengusaha yang kaya akibat mencuri hak-hak pekerja dengan para barisan pengemis yang dimulai dari para pengamen di bus kota sampai pengemis yang tinggal tinggal dikantor dengan mulut yang selalu berbusa-busa, tahu aja nih pengamen dengan rentetan peristiwa yang ku alami sepanjang sore ini, dan pengamen-pun pergi bersama koin terakhir yang kumiliki. (Khotib, Semarang, 5 juni 2009)

Tinggalkan sebuah Komentar »

Belum ada komentar.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: